Selasa, 09 Desember 2014

Iman Imas


“Man, ini udah dipel belum?” teriak lelaki tua berkaos putih itu. 

“Belum Bah,” jawab Iman singkat. 

“Eh, Man, kamu tertarik sama Ranti?” tanya pria itu pelan.

“Enggak Bah … emm …,” ia berpikir untuk menyampaikan isi hatinya, “itu Bah, Si Imas kok pendiem ya?”

“Oh, dari dulu dia itu kan emang pendiem, Man. Sejak bapaknya meninggal. Tapi Alhamdulillah udah sebulan ini mau pake jilbab … ya meskipun jilbab kecil dan masih pake jins,” jelas abah. 

Iman sebetulnya tahu, Imas baru sebulan ini memakai jilbab. Tapi entah kenapa, jilbab yang dipakai membuat dirinya tampak berbeda. 

“Kalau kamu mau cari pendamping, jangan cari yang seperti itu ya, Man? Cari yang agamanya bagus. Masa ketua remaja masjid istrinya begitu?” tambah abah. 

Hmm ... kata-kata terakhir itu menusuk hatinya. Hati kecilnya berkata, Imas adalah orang yang baik. Meskipun baru mengenakan jilbab, dari dulu ia rajin menolong tetangganya. Ia juga terkenal sopan. Meskipun tak memakai jilbab, dulu ia selalu keluar rumah mengenakan celana panjang dan baju lengan panjang. 

“Bukankah akhlak yang baik itu cerminan dari agama yang baik?” ia tak mampu berkata, hanya bergumam dalam hati.

“Iya Bah,” jawab Iman singkat sambil mengambil sebatang alat pel. Wajahnya berubah datar penuh pergolakan tanya di dada.




-edited by Inem-

2 komentar: